What mean of passion to write about my topics

Somewhat horrible with my works. Feeling ungrateful this situation. The day I was teaching about characteristic in arcus tan variable. They were dilligent, right? I suppose so.
Time goes by and by..
I was wondering about my topics to absorption in infrared wavelength. But, to explain with my friends is challenge. Membuat suasana cair dan hangat seperti menyajikan teh hijau. Hehe…
Maybe i’m a little with candies, dad. I need energy to create how best graph I reserve.
Hmm, phenomenon is the way of explain physics experiment. Somehow, it could apply in daily activities. A muslim must read qur’an periodically. Acquire what we learn is different. Who understand whoever gets hikmah.
It must be known to use mushaf. No application!

This material I get from my brother’s friend

Memegang Al-Qur’an

[edisi notulen]

Bagaimanakah seharusnya kita sebagai seorang muslim dalam menghormati kitab suci Al Qur’an?
Tentu yg paling utama adalah mempelajarinya, berusaha memahaminya, dan mengajarkan sejauh pemahaman yg bisa kita sampaikan..
Tentu ini adalah hal fundamental yang perlu kita lakukan sebagai bukti kedekatan kita kepada Al Qur’an.

Nah, ada hal menarik yg bisa kita pelajari bahkan renungi sangat dalam, untuk permasalahan yg mungkin bagi sebagian orang sangat sepele, yaitu permasalahan menyentuh/memegang mushaf. Bolehkah org yg sedang tidak suci (junub, haid, tanpa wudhu) menyentuh qur’an?

untuk masalah pegang mushaf dalam keadaan haid atau tidak berwudhu, ini masalah yang sangat legendaris..
ditanyakan dari dulu sampai sekarang..
karena sangat legendaris, dan penjelasannya menyangkut beragam konsep, maka kita coba diskusikan sedikit-sedikit.

Noted:
*kalau menemukan kata saya, artinya bukan saya, haha pusing kan..
Pokoknya bukan pemilik blog ini dech..

Pembahasan:

Mari kita cek dulu ayatnya:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Ini terjemah bahasa Indonesia : Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79)
Ini versi bahasa Inggris :
Indeed, it is a noble Qur’an (77) In a Register well-protected; (78) None touch it except the purified. (79)
Saya pilih versi Saheeh International karena mereka menekankan kemurnian terjemah kata.
Di sini ada beberapa isu :
1. kata ganti “nya” pada kata “menyentuhnya” (ayat 79) itu mengganti “Al Quran” (ayat 77) atau “kitab yang terpelihara” (ayat 78)?
2. Siapa yang dimaksud “the Purified”? orang atau bukan?

Mari kita simak penuturan para Imam tafsir mengenai ayat ini.
Saya mencoba mengambil yang mudah diambil dari Tafsir At Tabari, Al Qurthubi, dan Ibnu Katsir.
Kenapa At Tabari? Karena At Tabari metodologi tafsirnya paling baik menurut para peneliti tafsir. Kenapa Al Qurthubi?Karena Al Qurthubi fokus membahas aspek hukum dari ayat al Quran. Kenapa Ibnu Katsir? karena Ibnu Katsir sangat serius menyaring riwayat hadits yang menjelaskan Al Quran.

1. Metodologi tafsir At Tabari dinilai sangat baik antara lain karena beliau selalu bersandar pada riwayat dari Nabi saw, menyajikannya satu per satu.
Kalau tidak ada riwayat dari Nabi saw, beliau bersandar pada riwayat dari Sahabat.
Setelah itu, pada riwayat Tabi’in.
Dalam hal ayat2 di al Waqi’ah :78-79 ini, beliau menyajikan lebih dari 15 riwayat.
Di antaranya ini :
حدثني إسماعيل بن موسى، قال: أخبرنا شريك، عن حكيم، عن سعيد بن جُبَير، عن ابن عباس { لا يَمَسُّهُ إلاَّ المُطَهَّرُونَ } الكتاب الذي في السماء.
Di situ beliau menyajikan sanad dari Ismail bin Musa, dari Syuraik, dari Hakim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas menafsirkan “nya” di ayat itu sebagai “kitab yang di langit”.

Ada riwayat lain terkait asbabun nuzul :
حُدثت عن الحسين، قال: سمعت أبا معاذ يقول: ثنا عبيد، قال: سمعت الضحاك يقول في قوله: { لا يَمُسُّهُ إلا المُطَهَّرُونَ } زعموا أن الشياطين تنزّلت به على محمد، فأخبرهم الله أنها لا تقدر على ذلك، ولا تستطيعه، وما ينبغي لهم أن ينزلوا بهذا، وهو محجوب عنهم، وقرأ قول الله:
{ وَما يَنْبَغِي لَهُمْ وَما يَسْتَطِيعُونَ إنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ. }
Riwayat dari Adh Dhahhak (tabi’in) ini menyatakan bahwa orang2 kafir mengklaim bahwa Al Quran itu dibawa syaitan kepada Nabi saw.
Maka Allah pun mengabarkan kepada mereka bahwa syaitan2 itu tidak akan sanggup, dan syaitan2 itu sama sekali tidak pantas untuk turun dengan membawa Al Quran.

Kemudian, Adh Dhahhak membacakan ayat lain di Al quran yang mendukung tafsir ini, yaitu surat asy syu’ara : 211-212.
Ini lengkapnya dari ayat 210 :
وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ﴿٢١٠﴾ وَمَا يَنبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ ﴿٢١١﴾ إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ ﴿٢١٢﴾
Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. (210) Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa. (211) Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu. (212)
Ada juga riwayat lain, yang juga menyatakan bahwa “nya” menunjukkan kitab Al Quran yang ada di langit.
yang terpelihara dari sentuhan setan.
(Dengan kata lain, “nya” baliknya ke كتاب مكنون )
Mengenai المطهرون, Imam At Tabari menyajikan dua pendapat dari riwayat2 yang ada. Riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa maksudnya adalah Malaikat.
Demikian juga riwayat dari Sa’id bin Jubair dan Mujahid.

(Supaya tidak salah, riwayat di sini bukan hadita Nabi ya, melainkan pendapat para sahabat atau Tabi’in)
Tapi riwayat dari Ikrimah dan Abul ‘Aliyah menyatakan bahwa maksud المطهرون adalah manusia yang disucikan dari dosa, misalnya para penjaga kitab Taurat dan Injil, dan para Rasul Allah.

Setelah menyajikan semua riwayat, At Tabari menyatakan :
والصواب من القول من ذلك عندنا، أن الله جلّ ثناؤه، أخبر أن لا يمسّ الكتاب المكنون إلا المطهرون فعمّ بخبره المطهرين، ولم يخصص بعضاً دون بعض فالملائكة من المطهرين، والرسل والأنبياء من المطهرين وكل من كان مطهراً من الذنوب، فهو ممن استثني، وعني بقوله: { إلاَّ المُطَهَّرُونَ }.
“Pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa Allah yang Maha Terpuji mengabarkan bahwa tidak ada yang menyentuh kitab yang terpelihara itu kecuali orang2 yang disucikan,
dan Dia menyampaikan kabar itu secara umum tanpa mengkhususkan suatu golongan.

Maka malaikat termasuk mereka yang disucikan. Para Rasul dan Nabi juga termasuk mereka yang disucikan. Dan setiap orang yang disucikan dari dosa juga termasuk dalam golongan yang dimaksud dalam ayat ini.”

2. Imam Al Qurthubi juga menyajikan sebagian riwayat yang disajikan Imam At Tabari, tapi dengan ringkas.
Dan beliau menambahkan ulasan fiqih
Dan argumentasi para fuqaha.
Beliau menyajikan isu baru : “menyentuhnya” di ayat 79 itu menyentuh secara hakiki dengan anggota tubuh atau maknanya saja?
Lalu beliau menukil pernyataan Imam Malik (note : Imam Al Qurthubi mengikuti madzhab Imam Malik) :

Jadi manusia yang disucikan itu menurut Imam At Tabari yang disucikan dari dosa, misalnya para Rasul.
perkataan Imam Malik : Di antara hal terbaik yang pernah saya dengar adalah pendapat bahwa ayat
}لاَّ يَمَسُّهُ إِلاَّ ٱلْمُطَهَّرُونَ itu dalam kedudukan yang sama dengan ayat
»:
{ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُ.فَي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ.مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ.بِأَيْدِي سَفَرَةٍ. كِرَامٍ بَرَرَةٍ }
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, (12) di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, (13) yang ditinggikan lagi disucikan, (14) di tangan para penulis (malaikat), (15) yang mulia lagi berbakti. (16)
(Abasa : 12-16)
(Jadi maksudnya, Imam Malik mendukung pendapat bahwa المطهرون di ayat itu adalah Malaikat)
Akan tetapi, Imam Al Qurthubi sendiri mendukung pendapat yang menafsirkan القرأن di ayat 77 sebagai mushaf al Quran yang ada di tangan kita, dan “menyentuhnya” sebagai adalah menyentuh secara hakiki dengan tangan.

Dan “orang-orang yang disucikan” sebagai manusia2 yang suci dari hadats dan najis. Ini pendapat Qatadah (Qatadah bin Nu’mam. Beliau salah satu imam tafsir dari kalangan tabi’in.). Dalil pendapat ini yang disebutkan Al Qurthubi ada tiga :
1) hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwaththa’ bahwa Nabi saw menulis surat untuk ‘Amr bin Hazm yang isinya antara lain :
ألا يمسّ القرآن إلا طاهر
“Tidak boleh menyentuh Al Quran kecuali seseorang yang suci.”
2) Perkataan Ibnu Umar ra bahwa Nabi saw bersabda, لا تمسّ القرآن إلا وأنت طاهر : ” Jangan engkau sentuh Al Quran kecuali engkau dalam keadaan suci.”
3) Saat Umar belum masuk Islam, dia pernah masuk ke rumah lalu meminta mushaf kepada saudarinya, lalu saudarinya menjawab dengan ayat al Waqi’ah: 79
Lalu Umar mandi dan masuk Islam.

(Sayangnya, Imam Al Qurthubi tidak menjelaskan secara eksplisit status hadits dan atsar2 itu, apakah sahih, hasan, atau dha’if)
Lalu Imam Al Qurthubi membahas hukum menyentuh mushaf tanpa wudhu.
Beliau menyatakan bahwa mayoritas Ulama melarang dengan dalil hadits Amr bin Hazm tersebut.
Pendapat yang melarang ini adalah madzhab Ali ra, Ibnu Mas’ud ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra, Sa’id bin Zaid ra,
‘Atha, Az Zuhri, An Nakh’i, al Hakam, Hammad, dan sejumlah fuqaha antara lain Malik dan Asy Syafi’i.
Ada pendapat yang membolehkan dengan dasar surat Nabi saw kepada Kaisar (penguasa Romawi, maksudnya surat itu memuat ayat Al Quran). Imam al Qurthubi menolak pendapat ini dengan menyatakan bahwa
itu kondisi darurat jadi tidak bisa menjadi dasar.
(Ada ulasan lain sih tapi segini dulu aja pendapat Imam Al Qurthubi).

3. Nah, Imam Ibnu Katsir menilai bahwa hadits mengenai surat Nabi saw kepada Amr bin Hazm itu
statusnya baik dan layak dijadikan argumen.

Hadits itu diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kumpulan hadits mursal dan juga diriwayatkan oleh Ad Daruquthni (selain oleh Imam Malik sebagaimana yang disebutkan Imam Al Qurthubi). Tapi yang riwayat Ad Daruquthni menurut Ibnu Katsir ada kelemahan di sanadnya.

Dari uraian 3 imam tafsir tadi :
(1) Pangkal permasalahan ada di tafsir “nya”, ” menyentuh”, dan “yang disucikan” di al Waqi’ah 77-79
(2) Salah satu tafsir yang diterima baik adalah bahwa ayat itu menceritakan al Quran di langit yang tidak disentuh atau diakses kecuali oleh hamba-hamba Allah yang disucikan dari dosa. Dalilnya adalah ayat lain di suat Asy Syu’ara dan Abasa. Kalau mengikuti tafsir ini, berarti ayat di al waqi’ah tidak ada hubungannya dengan persoalan boleh tidaknya menyentuh mushaf tanpa wudhu.
(3) Penafsiran lainnya adalah bahwa ayat itu menyatakan bahwa mushaf al Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh manusia yang disucikan dari hadats atau najis. Dalilnya adalah hadits tentang surat Nabi saw kepada Amr bin Hazm.
Sebagian besar Ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan imam madzhab mengikuti tafsir ini sehingga mereka melarang orang yang berhadats menyentuh mushaf al Quran.

Q&A:

1. Qur’an di gadget:
Menurut Markaz Fatwa Islamweb (basis di Qatar), aplikasi Quran di gadget itu tidak sama dengan mushaf. Sebab, syarat mushaf itu harus ditulis, dan harus dengan huruf Arab. Sedangkan aplikasi itu bukan merupakan sesuatu yang ditulis.
Jadi larangan menyentuh mushaf tidak berlaku pada aplikasi Al quran di gadget ( fatwa no 32410 tahun 2003)

2. Bukankah Qur’an sekarang dicetak menggunakan plat, bukan ditulis?
Saya ga tahu persis kang apakah begitu pengertian fatwa itu.
Tapi Ulama lain memandang dengan sedikit beda, yaitu bahwa huruf2 di aplikasi itu kan hilang ketika aplikasi dimatikan. Beda dengan mushaf kertas yang tidak akan hilang hurufnya karena tidak on-off
wallahu a’lam.

3. Membaca qur’an:
Kan kalau salat kita baca Fatihah tanpa lihat Mushaf.
Tidak ada masalah dalam hal membaca Al Quran tanpa wudhu atau sedang haid. Yang dipermasalahkan itu kalau memegang tulisannya.

4. Kalau menyentuh dengan sarung tangan?
Itu juga dibahas Ulama kang. Menyentuh sama dengan memegang. Tapi soal pakai sarung tangan itu, kata imam Al Qurthubi, Abu Hanifah membolehkannya.

5. adakah Ulama yang membolehkan orang berhadats menyentuh mushaf? Kalau ada, apa dalilnya? Bagaimana menyikapi dalil yang dikemukakan oleh ulama yg melarang?
Yang Dibolehkan Menyentuh Mushaf Meskipun dalam Keadaan Berhadats
Pertama: Anak kecil.
Ulama Syafi’iyah mengatakan, “Tidak terlarang bagi anak kecil yang sudah tamyiz[8] untuk menyentuh mushaf walaupun dia dalam keadaan hadats besar. Dia dibolehkan untuk menyentuh, membawa dan untuk mempelajarinya. Yaitu tidak wajib melarang anak kecil semacam itu karena ia sangat butuh untuk mempelajari Al Qur’an dan sangat sulit jika terus-terusan diperintahkan untuk bersuci. Namun ia disunnahkan saja untuk bersuci.”[9]
Kedua: Bagi guru dan murid yang butuh untuk mempelajari Al Qur’an.
Dibolehkan bagi wanita haidh yang ingin mempelajari atau mengajarkan Al Qur’an di saat jam mengajar untuk menyentuh mushaf baik menyentuh seluruh mushaf atau sebagiannya atau cuma satu lembaran yang tertulis Al Qur’an. Namun hal ini tidak dibolehkan pada orang yang junub. Karena orang yang junub ia mudah untuk menghilangkan hadatsnya dengan mandi sebagaimana ia mudah untukk berwudhu. Beda halnya dengan wanita haidh, ia tidak bisa menghilangkan hadatsnya begitu saja karena yang ia alami adalah ketetapan Allah. Demikian pendapat dari ulama Malikiyah.
Akan tetapi yang jadi pegangan ulama Malikiyah, boleh bagi orang yang junub (laki-laki atau perempuan, kecil atau dewasa) untuk membawa Al Qur’an ketika mereka hendak belajar karena keadaan yang sulit untuk bersuci ketika itu. Ia dibolehkan untuk menelaah atau menghafal Al Qur’an ketika itu.[10]
Yang lebih tepat, untuk laki-laki yang junub karena ia mudah untuk menghilangkan hadatsnya, maka lebih baik ia bersuci terlebih dulu, setelah itu ia mengkaji Al Qur’an. Adapun untuk wanita haidh yang inginn mengkaji Al Qur’an, sikap yang lebih hati-hati adalah ia menyentuh Al Qur’an dengan pembatas sebagaimana diterangkan pada pembahasan yang telah lewat [4]. Wallahu a’lam.

Kesimpulan:
@_@
Hehe..
Silahkan dibaca ya..

Referensi:
[1] Jami’ul Bayan fi Tafsiril Quran (Tafsir at Tabari) surat al Waqi’ah : 78-79

http://altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&tTafsirNo=1&tSoraNo=56&tAyahNo=79&tDisplay=yes&Page=1&Size=1&LanguageId=1

[2] Al Jami’ li Ahkamil Quran (Tafsir al Qurthubi)

http://altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&tTafsirNo=5&tSoraNo=56&tAyahNo=79&tDisplay=yes&Page=2&Size=1&LanguageId=1

[3] Tafsirul Quranil Karim (Tafsir Ibnu Katsir)

http://altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&tTafsirNo=7&tSoraNo=56&tAyahNo=79&tDisplay=yes&Page=1&Size=1&LanguageId=1

[4] http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyentuh-mushaf-al-quran-bagi-orang-yang-berhadats.html

Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s