Jelang Lebaran Kali ini

Bismillahirahmanirahim..

Jumat ini aku mulai hari dengan bersuci dari hadas besar dan hadas kecil. Dikenakan dua potong kain putih untuk menunaikan kecintaanku pada rinduNya akan dibuat rumah di surga dengan pohon yang rindang. Kuingat malam tarawih, mungkin pertengahan bulan Ramadhan waktu SMP.  Kakak  ikhwan yang muda itu, suami dari murobbiyahku bercerita tentang keutamaan rahmat saat matahari sepenggalah naik. Diberinya coklat hmm lezatnya… pada jama’ah yang tiada putus untuk bertahajud di sepertiga malam. Namun diri ini belum bisa terbangun dari lelapnya mimpi.

Doa rabithah yang kupanjatkan sebagai wujud kerinduanku agar aku diberi pekerjaan nantinya yang mendekatkanku pada diriMu Ya Rabb…

Dan dzikir pembeda haq dan bathil yang aku kecapkan selama memilih barang-barang di pasar bersama ibuku. Terlihat semangka merah yang segar yang mengingatkanku akan cerita ibuku bahwa waktu aku kecil menyukai buah yang berwarna merah sperti anggur dan semangka.

Semangka ini juga berkhasiat untuk meredakan panasnya lambung jika memakan daging sapi atau ayam.

Sepulang dari pasar kulihat seorang ibu dan anak yang membawa karung, sedangkan aku dan ibuku membawa belanjaan. Entah hari yang Fitri nanti dapatkah mereka mendapat hidangan rahmat dari Allah untuk mengenyangkan perut mereka.

Kuberjalan mendekati mereka dan memberikan sedekah. Ibu itu dengan senyum yang tulus berterimakasih.

Aku senang melihat senyuman tulus tersebut. Setelah, aku berceritera tetanggaku jika di rumah jarang tersenyum padaku. Namun, sewaktu di pasar rekahan senyum terbias di kerumunan orang yang hiruk pikuk di pasar.

Langkah terus berlanjut untuk kembali berteduh di rumah yang penuh rahmat. Di pertigaan jalan ada angkot yang menawarkan tumpangan. Apakah ini rahmatNya setelah mendapatkan senyum yang tulus tersebut? Ini karunia dari Allah untuk meringankan bawaanku yang menumpang di sebelah pundakku. Di hari minggu yang tenang dimana kaum muslimin saling bermaaf-maafan. Silahturahmi ke kerabat terdekat merupakan kebiasaan atau rutinitas atau tujuan yang lebih mulia untuk mengharapkan karunia dari Allah. Kita berbagi rasa suka dan duka.🙂

Untuk sahabat, kawan, dan muslim yang baru kutemui teringat dengan izzis yang doa rabithah. Tak kira yang ali imran, ternyata al-anfal.

Taqoballahu minna wa minkum, yaa karim. Amin allahumma amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s