Arsitek Peradaban Pertanian Indonesia (Jilid I)

Ketika kau tahu elemen mendasar pd ketahanan negara itu adalah pertanian. Sekarang bila para petani sedang panen, alhasil celakalah didapat dari para rentenir. Lobi-lobi yang sudah disahkan adanya menjadi permainan anak kecil yang curang. Malukah negeriku pada negeri seberang yang mana mendukung penuh kegiatan pertaniannya dari hulu ke hilir.

Di negeriku berbicara politik dianggap celakalah buah simalakama karena yang berhak membicarakannnya itu yang punya kursi dan keuangan yang mereka agungkan.

Berbondong-bondong para sarjana yang terdidik intelektual dan moralitasnya dari negeriku hijrah ke negeri seberang hanya untuk suatu pencapaian kepuasan diri bahkan pengakuan adanya aktualitas diri.

Masihkah melihat negeriku yang sudah banyak dilanda bencana serta krisis di pelbagai bidang ini dibiarkan sampai tidak ada lagi zamrud di katulistiwa.

Negara-negara maju masih bisa melihat masa depan untuk ditaklukan.  Ilmuwan mereka memprediksikan bahwa bumi masih bisa memberikan pangan untuk  manusia yang kini populasinya 6 milyar bahkan akan bertambah dalam beberapa dekade ke depan.

Negeriku melihat masa depan yang kelam tanpa motor penggerak.

Penggerak yang diharapkan itu adalah mahasiswa. Tetapi, apakah mahasiswa sendiri sudah melihat kepuasan terhadap kampus mereka?

Mereka masih saja ingin ke negeri seberang untuk menimba ilmu.

Memang tiada daya negeri ini memikat penduduk aslinya sendiri untuk tetap bertahan di negeri yang mereka sebut negeri ini gema ripah loh jinawi.

Masihkah kita, mahasiswa yang akan menorehkan tinta emas dalam sejarah manusia melihat kampus sebagai hotel.

Sebuah peradaban yang dinantikan kedepannya untuk mandiri di bidang pertanian.

Fasilitas kita bukan standar wong sugih yang ada meja cendana sebagai tempat  penjamuan makan serta  diskusi mengenai negeri ini.

Tri dharma yang kita anut menjadi dasar penyelenggaraan Pendidikan Tinggi telah terlupakan karena terkikis oleh budaya hedonisme dan  materialisme.

Etika kesopanan dan kesetiakawanan yang luntur antar sesama.

Pendidikan di negeri ini belum mencapai kestabilan pemerataan. Ibarat seperti makanan yang tersaji dalam restoran mewah untuk kalangan atas.

Sedangkan kami, mahasiswa menikmati sajian makanan sebagai energi untuk berpikir kami dalam restoran sederhana kami, warung makan khas nusantara, asli buatan negeri sendiri.

Tantangan yang terus datang untuk menghadapi masa depan harus dapat diatasi oleh penggerak, pembangun, dan pendobrak peradaban.

Globalisasi yang telah memasuki sektor-sektor penting dalam kenegaraan membawa dampak perubahan pada sendi-sendi kehidupan bernegara. Sekarang, dengan globalisasi pasar pertanian, apa yang dilakukan satu negara untuk mendukung sektor pertaniannya sendiri berdampak besar pada petani negara lain. Tidak lagi ada satu negara yang terpisah sendirian. Kebijakan pertanian masing-masing negara mempengaruhi produsen pertanian di seluruh dunia dan dengan demikian menjadi urusan negara. ( Lipsey 1995)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s