Tepebe {:@}

Ngampus atau menghapus?

 

Ngampus guys.. Asiikk..

Inilah sekelumit dunia kampus yang mesti kamu tahu.

Alkisah, ada seorang mahasiswi jurusan teknik perminyakan yang katanya pintar kimia. Katanya dia alasan masuk teknik perminyakan itu karena suka parfum. Tapi, apa yang terjadi mahasiswi itu kaget dengan sistem perkuliahannya yang mengharuskan dia praktikum hingga malam hari. Ada lagi yang masuk jurusan biologi  karena belajarnya ringan. Nyatanya, biologi SMA dengan perkuliahan berbeda. Selain itu, jurusan farmasi yang banyak diidamkan sebagai pilihan kedua bila tidak dapat kedokteran. Pertama masuk hingga ratusan setelah lulus hanya kurang dari empat puluhan. Dan saya sendiri yang jurusan fisika banyak mendengar keluhan teman saya terhadap jurusan yang saya pilih ini, termasuk teman sejurusan. Mereka mengaku bahwa fisika pilihan kedua. Gubrak… padahal fisika itu menyenangkan. Menyelesaikan soalnya dengan tuntas merupakan kepuasan batin yang tiada tara. Dari pernyataan-pernyataan yang saya ungkapkan ini terbukti bahwa mau jurusan apapun, tetapi di hati tidak ada niatan untuk menerima dengan ikhlas perjalanan ke depan akan lebih terjal dan banyak kerikil. Maka dari itu, sistem perguruan tinggi mendidik untuk menjadi ahli. Lain halnya, sewaktu SMA yang dijadikan “jack of all trades, but master of none”.

Jika saya renungkan selama empat bulan di IPB saya merasakan pengaruh positif terhadap cara belajar. You must be yourself, don’t be someone if you’re no one.”  Saya termasuk orang yang berpendapat kuat dan berprinsip. Namun, kelemahan saya di kematangan sosial karena belum mampu menghadapi konflik sesama. Pemberian mata kuliah sosiologi umum sangat membantu saya memahami sekelumit kehidupan nyata dan kehidupan selama di asrama. Saya juga mengakui pendalaman materi ilmu baik sains alam dan sains sosial mempunyai proporsi yang sama. Penalaran seseorang diukur dengn cara dia berbicara dan bersikap. Biasanya orang-orang pendiam itu sedang mengalahkan emosinya untuk tidak berbicara karena sebenarnya dia sedang berpikir. Saya mengetahui setiap individu tidak mau dikatakan bodoh, melainkan kurang beruntung. Saya salut dengan program-program yang memotivasi mahasiswa selama di asrama. Tapi, ada sesuatu yang menggelitik saya tentang IPK 4,00 saat TPB. Mungkin untuk mahasiswa di atas tingkat atas kami maksud saya di atasnya angkatan 48 tak menyadari kami yang di FMIPA adalah mahasiswa penuh resiko. Mungkin, kami dapat nilai B atau C tetapi ukuran kami tidak bisa disamakan dengan mahasiswa dari fakultas lainnya, terutama yang notabene fakultas dan jurusan favorit. Saya paling sebal dengan pengunderestimate  di belakang. Saya tegaskan TPB 48 itu berbeda dengan TPB angkatan di atas 48. saya sendiri agak menyesal karena tidak mengikuti fisika dasar ulang sementara tingkat kesukarannya diturunkan, maka akan banyak yang dapat nilai A. itulah yang diharapkan NILAI, bukan merujuk KUALITAS. Saya sendiri mengalami pengalaman pahit ketika wawancara dengan SR dari astra yang secara tidak langsung menganggap saya payah dan tidak tahu penelitian lapangan. Mungkin itu sebagai cambuk bagi saya untuk membuktikan bahwa saya itu seseorang yang serius jika dalam belajar, namun saya itu supel dengan mahasiswa dari fakultas lainnya.

Akhirnya, saya masuk di kelas fisdas dengan kata lain sebagai ‘penyusup’ karena saya sudah dikatakan lulus mata kuliah tersebut walaupun hasilnya agak mengecewakan. Tetapi, mind set  orang nilai itu penting dibandingkan proses.  Itu yang salah. Mereka tidak menghargai kerja keras dan proses yang telah dilakukan orang tersebut. Saya kembali dengan cara belajar SMA dengan kesenangan dan kerelaan hati untuk benar-benar menekuni bidang yang saya ambil. Saya tidak ingin menyakiti pihak-pihak yang telah dan akan menjalani proses belajar di  TPB. Cukup saya saja yang mengalaminya.  Semua itu tergantung PROSES! Jika bicara bukti no body’s perfect, every body has make it own his/her way.  Lulusan IPB itu berapa ya IPK-nya. Namun, kualitas mereka jangan diragukan.  Dengan  segala usaha, kita dapat  mewujudkan impian . Proses yang dijalani itu yang akan menjadi tantangan. Setiap individu akan berbeda kadarnya untuk menaklukan  tantangan. Keyakinan dengan keikhlasan serta kerendahan hati yang membuatmu terus percaya Allaah akan mewujudkannya.

Tuliskanlah mimpimu dengan pensil dan terimalah penghapus dari Allaah.

One response to “Tepebe {:@}

  1. Reblogged this on Iraukhtia's Weblog and commented:

    Setelah finalisasi nilai semester kemarin. Fisika dasar tidak bisa diulang. Inilah nasrullah untuk aku yang belajar menjadi pribadi yang istiqomah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s