Langit di Sana

12/20/2011, 8:46 PM

Detik-detik untuk menenangkan serta menstabilkan pikiranku. Ku coba ‘tuk menuliskan puisi tentang sebuah kisah dua orang yang berlawanan kutubnya. Aku mengetik di netbook hasil sebuah kerja keras akan penantian untuk mendapatkannya sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat suci untuk memperkuat ingatan dan membangun tembok yang catnya telah usang. Inilah kisahku dalam puisi nyata sebelum UAS.

Langit di Sana

Bila langit terus gelap gulita

Aku kan terus pastikan si jelita

Secerah bintang yang bersinar

Menampakkan wajah berbinar

 

Bila langit terus tertutup

Aku kan buka lapisan per lapisan

Memandang dan mengharap

Yang lalu dan akan terjadi adanya

 

Jika kau harap pada langit

Ar’asy yang dimiliki-Nya

Tlah menyimpan segala surat

Yang tertuju pada segala ciptaan-Nya

 

Jika kau menghadap ke utara

Aurora yang selalu menari

Berias untuk dirinya setiap hari

Dengan segala pendaran warna

 

Mungkin segala arah tertuju

Mungkin pertanyaan terus diajukan

Selalu ada jawaban untukmu

Seakan kau telah melukiskan kisahmu

 

Langkah demi langkah yang kupijak

Ku tinggalkan jejak penantian

Penantian dan pengharapan

Seakan selalu ada penghabisan

 

Bila takdir telah memastikan akhir

Dengan segala awal yang pahit

Berakhir kenikmatan yang manis

Dengan benang nurani yang terajut

 

Langit  tetap mengelabui  tidak jelas

Akan kepastian cahaya yang menembus

Menanti pancaran tiada akhir

Memantulkan jiwa suci yang berikhtiar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s